Sabtu, 07 Maret 2009

Pesan Seorang Mujahid

Oleh Rizal fauzi

Langit telah menyembunyikan dirinya, malam telah menyelimuti sisa cahaya surya yang hamper pudar. Aku, ibu dan ayah duduk diruang tamu. Menonton siaran televisi. Sedangkan aku, berusaha menjawab pertanyaan ayah, tentang kondisi dan hasil yang aku dapatkan selama kuliah. Setelah ujian akhir semester, aku memang tidak tinggal di Cairo. Memutuskan menghabiskan masa libur dengan Orangtua.
Malam itu, disela-sela keharmonisan kami. Seorang utusan mujahid Hamas, memberikan surat pada ayahku. Aku tidak mengenal orang itu, tapi aku ingat betul apa yang diucapkannya,

“tentara zionis telah memasuki Gaza. Mereka telah membunuh banyak penduduk, menganiaya dan menawan anak-anak kecil”.
Aku mengerti maksud ucapan itu, dan tahu isi suratnya. Karena itulah aku memaksa ayahku agar mengizinkanku pergii berperang. Kami berdialog cukup lama, ibu meninggalkan kami masuk kamar. Sedangkan aku terus maksa ayah.
“Ayah, biarkan aku saja yang pergi”
“Gak Usah, selesaikan saja kuliahmu!” Kata-kata terakhir ayahku, menutup percakapan kami, sebelum ia masuk kamar menemui bunda.

Namun, ayahku tidak menghiraukan ucapanku. Dia bahkan menyuruhku kembali ke Kairo, untuk menyelesaikan kuliah. Sungguh aku tidak mengerti apa yang ia katakana. Kebingungan it uterus aku pikirkan sampai aku tertidur.
“Ahmad, bangun! Ayahmu akan pergi” ibuku membangunkan.
“Mana ayah?” Aku penasaran, apakah dia benar-benar akan pergi.
“Sudah masuk mobil jemputan mujahid” ibuku menjelaskan

Mendengar itu, aku bangun dan berlari menemui ayahku yang sudah masuk mobil. Baru saja aku membuka pintu rumah. Ayah menatapku dan melambaikan tangannya dihiasi dengan senyuman. Senyuman yang penuh getir, karena meninggalkan keluarga. Tidak ada kehawatiran pergi ke medan perang bagi dirinya. “Tapi, kalianlah yang aku kawatirkan”, ucapannya, dalam percakapan kami malam tadi.

Tak ada pesan yang dia ucapkan, bahkan salam dan sentuhan tangannya pun tidak aku rasakan. Tetesan air mata, membasahi lantai yang aku pijak. Sedang ibu, menangis semabari menutup wajahnya diatas sopa. Aku dan ibu tahu betul apa yang akan terjadi di medan perang. Banyak mujahid dari kampungku yang tidak kembali. Meninggalkan anak yatim yang harus diurus oleh seorang janda.
“Bu, jangan menangis terus. Ayah pasti kembali” aku menyapa ibu, menenangkannya dari kesedihan.
“bukan ayahmu yang aku kawatirkan. Tapi kuliahmu. Ayahmu ingin kau jadi ulama pintar, agar bisa membimbing orang-orang” Ibuku menasehatiku.
Aku tidak mengerti. Kenapa ibu lebih menghawatirkan aku. Padahal ia jelas mengetahui kejamnya dan penderitaan perang.

Setelah aku selesai shalat subuh, yang belum sempat aku kerjakan karena mengejar ayah. Aku menemui ibu yang belum berhenti meneteskan air mata, “bu, kenapa ibu dan ayah menghawatirkan kuliah?”
“Dulu, ibu dan ayah pernah mengalami betapa kejamnya perang. Bahkan, saudara kandung ayahmu meninggal di depan matanya. Kami sangat menderita, mayat dimana-mana, anak-anak banyak yang jadi yatim, ibunya menjadi janda, dan ulama banyak yang meninggal. Mengalami semua itu, ayahmu berjanji akan menyekolahkanmu sampai jadi ulama. Ia tidak menginginkan apa yang ibu dan ayahmy alami terjadi padamu”
Menjeleaskan itu, ibu mengusap kedua airmatanya. Dan mengelus kepalaku. Seakan-akan ia menyimpan sebuah harapan.

Sekarang aku mengerti apa yang dikawatirkan mereka. Ia tidak hanya menghawatirkanku. Tapi, umat, masyarakat kampung ini dan kampung lainnya yang telah kehilangan banyak ulama. Aku mengerti pesan mujahid—ayahku, berjihad bukan hanya berperang. Melainkan mencari ilmu yang bermanfaatpun adalah jihad. Terlalu banyak umat masa kini yang membutukan ulama yang solih. Itulah pesan sang mujahid.

1 komentar:

Dasam Syamsudin mengatakan...

wah.. cerpen bang Rizal, walaupun singkat bagus. menggugah.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification