Minggu, 13 September 2009

Puasa dan Kesalehan Otentik

Oleh Ust. Moh. Yunus

Allah SWT, menganjurkan kepada hambanya yang berpuasa agar senantiasa mengisi puasanya dengan melakukan amal shaleh (berbuat baik). Hal tersebut dilakukan semata-mata agar hambanya bisa menumbuhkan ketaqwaan di dalam dirinya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kalian bertaqwa” (QS Al-Baqarah [2]:183).

Allah memerintahkan puasa agar hambanya dekat dengan-Nya. Tapi, justru yang ia kehendaki dari hambanya yang berpuasa adalah, agar hamba tersebut berbuat baik kepada sesamanya, menjalin hubungan muamalah yang baik dan silaturahmi yang terjaga dengan tidak mengesampingkan ibadah vertical—ibadah yang langsung berhubungan dengan-Nya (ibadah mahdoh).

Nah, oleh karena itu, di dalam melaksanakan puasa, berarti kita harus memperhatikan ibadah yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan. Dan, permasalah kemanusiaan sekarang yang paling dominan ialah permasalahan ekonomi.

Masyarakat Indonesia, saat ini, walaupun menurut sensus telah mengalami jumlah penurunan dalam jumlah kemiskinan bebarapa persen, tetap saja permasalahan ekonomi selalu jadi permasalahan nomor wahid bagi bangsa yang mayoritas beragama Islam ini. Untuk itu, kesempatam ramadhan kali ini, jika kita menghendaki kesempurnaan ibadah puasa, kita harus bisa berbuat baik pada orang lain. Artinya, saat-saat berpuasa harus menjadi motivasi dan acuan untuk membantu tetangga yang berkekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya membantu tetangga yang bingung karena saat berbuka puasa ia tidak memiliki apa-apa, atau kekurangan pangan.

Dengan demikian, puasa sebagai jalan untuk mendekati Allah SWT, harus jadi energi dahsyat untuk berusaha mengurangi jumlah kemiskinan dan kelaparan. Upaya memberantas kelaparan, kemiskinan dan anak-anak yatim atau jalanan yang terlantar atau bahkan terbuang harus jadi pemasalah kolektif bagi hamba yang merasa beragama Islam—bahkan secara kemanusiaan, bagi siapapun yang beragama.

Masyarat atau pemerintah harus sama-sama meyakini dan berusaha menggugah, untuk tidak membiarkan permasalahan ekonomi melanda bangsa ini di bulan yang suci. Apalah artinya berpuasa jika kita membiarkan orang lain kelaparan, miskin dan terbengkalai karena kekurangannya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Puasa bukan semata menahan dari hal-hal yang membatalkan saja, tapi harus betul-betul jadi ajang pelatihan dan energi dahsyat menggugah diri agar senantiasa memperhatikan saudara-saudara yang lain. Puasa untuk ketaqwaan kita kepada Tuhan, adalah puasa yang memperdulikan orang lain dari keuslitan-kesulitan hidup yang menghimpit mereka.

Sekarang, bagaimana puasa akan menjadi jalan kita mendekati Allah SWT, sedangkan kita melupakan orang lain. Padahal Allah sendiri memerintahkan agar kita berbuat peduli pada orang lain dengan memberi pertolongan berupa apapun yang baik menurut pandangan Tuhan. Bukankah Allah Mahapeduli pada hambanya, maka tauladanilah sifat-Nya itu.

Salah satu fungsi puasa adalah untuk mentauladani sifat Allah yang terlepas dari kebutuhan materi dan kebutuhan apapaun. Nah, itu juga artinya kita harus mentaladani sifat-sifat-Nya yang lain, diantaranya kepedulian terhadap orang lain. Menolong sesame manusia, itu bukan hanya dipandang baik dari segi agama, tapi dari segi kemanusiaan pun manusia dituntut membantu yang lain, sebab manusia adalah makhluk social (homo socious).

Oleh karena itu, Momentum berpuasa, sebagai ibadah yang sangat agung, harus kita gusur ke arah tersebut. Sebab, mendekatkan diri kepada Tuhan walau pun itu kewajiban setiap individu, bukan berarti harus melupakan hubungan dengan manusia lain. Lagipula, Allah SWT sangat menyukai hambanya yang berusaha mendekati-Nya dengan jalan berbuat baik kepada sesama manusia, menolong yang susah, memberi pada yang membutuhkan, dan mengangkat orang-orang yang jatuh dari ketidak semangatan hidup dan beribadah.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 184 Allah SWT menyinggung, bahwa apabila seorang hamba batal puasanya—sebab alasan tertentu bukan karena disengaja—maka salah satu kifaratnya dia harus memberi makan orang miskin. Hal itu bisa kita pahami bahwa pesan-pesan kemanusiaan dalam berpuasa amat kental, sehingga Allah memberi konsekuensi bagi yang batal dengan harus memberi makan pada si miskin. Artinya, sisi kepeduliaan terhadap sesama manusia dalam berpuasa pun menjadi hal yang sangat penting diperhatikan. Meningkatkan kualitas berpuasa berarti meningkatkan kepeduliaan pada sesama manusia.


Sabtu, 05 September 2009

Panggung Kehidupan

Oleh Neng Fiqih

Senja, saat matahari merayapi jalan kembali keufuknya. Sinarnya yang merumbai-rumbai begitu hangat laksana pelukan Bidadari. Semilir angin menghembus membisikan nyanyian dari Negeri Cinta di antah berantah. Belaian angin yang lembut, memaksa rumput yang menghampar hijau dan dedaunan yang gelayutan di pepohonan menari-nari, mengikuti nada-nada alam yang berirama. Alam adalah harmonisasi dari perpaduan berbagai unsur yang menyatu.
Bagaikan jemari yang merayapi family cord dengan terarah, menekan senarnya dengan lembut, dan memetiknya penuh irama yang lahir dari hati. Sehingga gitar bersenandung penuh keindahan, menebarkan aura kebahagiaan. Syukurilah, hidup yang tidak akan pernah kehilangan keindahannya. Sebab, semuanya anugerah Tuhan yang tiada tara.

Tuhan Berfirman, “Jadi! Maka jadilah”. Laksana panggung sandiwara. Tirai kehidupan disingkap-Nya dengan lembut. Bumi dan langit yang tadinya menyatu, dipisahkan sehingga ruang dan waktu tercipta. Dengan penuh ketaatan, semua materi, energi, sampai gelombang foton, berduyun-duyun menyatu padu membentuk dekorasi alam yang tertata rapi nan indah. Hiasan-hiasan langit ditebarkan, gemerlip bintang, kelembutan cahaya rembulan, hilir mudik awan, sampai lengkungan pelangi yang mencoret langit dengan aneka warnanya menjadi lukisan maha karya yang indah tiada terperi. Hamparan rumput diratakan menyelimuti bumi laksana karpet hijau bercahaya, gunung-gemunung ditancapkan, salju melapisi menjadi kulit beberapa pegunungan, samudera dibentangkan, daratan ditonjolkan, hutan pun didirikan dengan pepohonan yang tumbuh liar menjejalinya, dan hewan-hewan dihamburkan, semua menempati singgasananya masing-masing. Oh… betapa maha karya yang luar biasa dari Sang Pencipta.

Tuhan sangat Bijaksana mendisain “panggung ini” begitu sempurna. Untuk siapakah semua ini diciptakan?

Kata yang teruntai indah, menyentuh, deskriftif serta sempurna yang diguratkan di dalam kitab-Nya, membisikan palung jiwa. Sebuah pesan yang dibawa Merpati Putih dari Gurun yang gersang di Negeri Rasul. Alam ini memang telah mencapai dekorasi kesempurnaan dan perpaduaan yang artistik. Namun puncak kesempurnaan ciptaan bukanlah “panggung ini”. Melainkan para pemerannya, aktor yang akan memerankan skenario kehidupan yang telah di tuliskan-Nya. Siapakah gerangan mereka?

Pasukan Cahaya—para malaikat—bertanya-tanya tentang calon pemimpin yang akan menempati ruang di atas bumi dan mengalir dengan waktu di bawah surya. Mereka Manusia! Gemuruh celotehan Malaikat menggema menjejelai lelangit. Pasukan Cahaya itu protes pada Tuhan karena cintanya pada apa yang telah diciptakan-Nya. Kehawatiran menyelimuti Pasukan Cahaya, takut-takut kalau sang pemimpin dunia ini merusak mahakarya tiada tara. Tuhan, membelai para malaikat dengan kalam yang menyentuh. Malaikat pun tertunduk mengerti.

Awalnya dia hanyalah sebuah lempung yang beragam, dicampu-campur lalu diadon. Bentuk sempurna pun tercipta. Tubuhnya masih kaku seperti patung, lalu ruh yang ditiupkan Tuhan beterbangan, berputar memperhatikan sosok yang akan dihuninya. Manusia pertama tercipta. Alam menjerit?

Tidak ada, bahkan tidak boleh makhluk bersujud kepada makhluk lain. Tapi untuk Adam. Lihatlah! Pasukan Cahaya pun sujud penuh ketaatan karena Tuhan. Mengapa makhluk ini begitu dimanjakan? Mengapa makhluk ini mencapai kesempurnaan kehidupan? mengapa makhluk ini begitu pintar? Mengapa makhluk ini mendapat surga? Alasannya hanya satu. Mereka pemimpin. aktor yang akan memerankan skenario yang telah di tulis Tuhan dengan Qolam-Nya. Jika mereka mampu mengikuti skenario-Nya. Panggung keindahan yang sesungguhnya telah menantinya di Negeri Akhirat. Namun, jika peran mereka buruk. Tidak ada panggung yang indah. Yang ada hanya gemuruh cemooh penuh caci dari penonton sandiwara ini. Siksa akan kita rasa.[]

Sabtu, 07 Maret 2009

Pesan Seorang Mujahid

Oleh Rizal fauzi

Langit telah menyembunyikan dirinya, malam telah menyelimuti sisa cahaya surya yang hamper pudar. Aku, ibu dan ayah duduk diruang tamu. Menonton siaran televisi. Sedangkan aku, berusaha menjawab pertanyaan ayah, tentang kondisi dan hasil yang aku dapatkan selama kuliah. Setelah ujian akhir semester, aku memang tidak tinggal di Cairo. Memutuskan menghabiskan masa libur dengan Orangtua.
Malam itu, disela-sela keharmonisan kami. Seorang utusan mujahid Hamas, memberikan surat pada ayahku. Aku tidak mengenal orang itu, tapi aku ingat betul apa yang diucapkannya,

“tentara zionis telah memasuki Gaza. Mereka telah membunuh banyak penduduk, menganiaya dan menawan anak-anak kecil”.
Aku mengerti maksud ucapan itu, dan tahu isi suratnya. Karena itulah aku memaksa ayahku agar mengizinkanku pergii berperang. Kami berdialog cukup lama, ibu meninggalkan kami masuk kamar. Sedangkan aku terus maksa ayah.
“Ayah, biarkan aku saja yang pergi”
“Gak Usah, selesaikan saja kuliahmu!” Kata-kata terakhir ayahku, menutup percakapan kami, sebelum ia masuk kamar menemui bunda.

Namun, ayahku tidak menghiraukan ucapanku. Dia bahkan menyuruhku kembali ke Kairo, untuk menyelesaikan kuliah. Sungguh aku tidak mengerti apa yang ia katakana. Kebingungan it uterus aku pikirkan sampai aku tertidur.
“Ahmad, bangun! Ayahmu akan pergi” ibuku membangunkan.
“Mana ayah?” Aku penasaran, apakah dia benar-benar akan pergi.
“Sudah masuk mobil jemputan mujahid” ibuku menjelaskan

Mendengar itu, aku bangun dan berlari menemui ayahku yang sudah masuk mobil. Baru saja aku membuka pintu rumah. Ayah menatapku dan melambaikan tangannya dihiasi dengan senyuman. Senyuman yang penuh getir, karena meninggalkan keluarga. Tidak ada kehawatiran pergi ke medan perang bagi dirinya. “Tapi, kalianlah yang aku kawatirkan”, ucapannya, dalam percakapan kami malam tadi.

Tak ada pesan yang dia ucapkan, bahkan salam dan sentuhan tangannya pun tidak aku rasakan. Tetesan air mata, membasahi lantai yang aku pijak. Sedang ibu, menangis semabari menutup wajahnya diatas sopa. Aku dan ibu tahu betul apa yang akan terjadi di medan perang. Banyak mujahid dari kampungku yang tidak kembali. Meninggalkan anak yatim yang harus diurus oleh seorang janda.
“Bu, jangan menangis terus. Ayah pasti kembali” aku menyapa ibu, menenangkannya dari kesedihan.
“bukan ayahmu yang aku kawatirkan. Tapi kuliahmu. Ayahmu ingin kau jadi ulama pintar, agar bisa membimbing orang-orang” Ibuku menasehatiku.
Aku tidak mengerti. Kenapa ibu lebih menghawatirkan aku. Padahal ia jelas mengetahui kejamnya dan penderitaan perang.

Setelah aku selesai shalat subuh, yang belum sempat aku kerjakan karena mengejar ayah. Aku menemui ibu yang belum berhenti meneteskan air mata, “bu, kenapa ibu dan ayah menghawatirkan kuliah?”
“Dulu, ibu dan ayah pernah mengalami betapa kejamnya perang. Bahkan, saudara kandung ayahmu meninggal di depan matanya. Kami sangat menderita, mayat dimana-mana, anak-anak banyak yang jadi yatim, ibunya menjadi janda, dan ulama banyak yang meninggal. Mengalami semua itu, ayahmu berjanji akan menyekolahkanmu sampai jadi ulama. Ia tidak menginginkan apa yang ibu dan ayahmy alami terjadi padamu”
Menjeleaskan itu, ibu mengusap kedua airmatanya. Dan mengelus kepalaku. Seakan-akan ia menyimpan sebuah harapan.

Sekarang aku mengerti apa yang dikawatirkan mereka. Ia tidak hanya menghawatirkanku. Tapi, umat, masyarakat kampung ini dan kampung lainnya yang telah kehilangan banyak ulama. Aku mengerti pesan mujahid—ayahku, berjihad bukan hanya berperang. Melainkan mencari ilmu yang bermanfaatpun adalah jihad. Terlalu banyak umat masa kini yang membutukan ulama yang solih. Itulah pesan sang mujahid.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification