Rabu, 15 Desember 2010

Cahaya Yang Terperangkap

Oleh DASAM SYAMSUDIN

Agama dan Humanisme-Lubang hitam (black hold), bukanlah sebuah lubang. Itu adalah bintang yang mati. Bintang gemintang yang berserakan di jagat raya mempunyai usia. Maksudnya, pijar yang menyala-nyala di tubuh bintang suatu saat akan padam. Dan reaksi supernova yang terjadi sebelum bintang itu betul-betul mati akan melempar dan menghamburkan seluruh materi dan energi dengan dahsyat. Lalu, semua materi itu akan terhisap kembali pada materi dasar bintang tersebut dengan kekuatan gravitatsi yang secara menakjubkan menjadi jutaan kali lipat besarnya. Sehingga dengan daya hisap gravitasi yang sangat dahsyat itu mampu menarik benda-benda angkasa yang lewat dekat dengannya. Sebesar dan secepat apapun benda angkasa yang mendekat akan hancur terhisap, termasuk sesuatu yang tercepat; seperti gelombang foton (cahaya). Besarnya daya gravitasi bintang tersebut membuat cahaya terjebak dan tak berdaya, tak bisa memantul atau lepas darinya. Hal itu menyebabkan tak ada gelombang foton yang dipantulkan dari bintang tersebut, sehingga bintang itu terlihat bolong layaknya sebuah lubang dalam yang tak berujung. Bukan hanya itu, besarnya gaya gravitasi menjadikan bintang mati itu menghisap dirinya sendiri sampai ukurannya berkali-kali lipat lebih kecil dari ukuran awalnya. Sangat menakjubkan.

Bayangkan, sebuah bintang yang begitu besar bisa tidak terihat disebabkan tak ada cahaya yang mampu memancar darinya. Alih-alih cahaya yang menyorot bintang itu malah dihisapnya.

Fakta ilmiah di atas yang ditemukan pada abad keduapuluh ini, mempunyai hikmah yang sangat menarik. Katakan saja bisa dianalogikan dengan keimanan pada Tuhan yang bisa tidak terlihat (tidak terasa) karena hati kita tidak bisa memancarkan cahaya-Nya.

Al-Quran berfirman, “Allah adalah cahaya di atas cahaya”. Menurut Dr. Zakir Naik, penulis buku Al-Quran dan Sains Modern, dia juga seorang Hafidz (seorang yang hafal seluruh Al-Quran), mengatakan, yang dimaksud Allah cahaya diatas cahaya merupakan sebuah analogi; bahwa Allah SWT merupakan cahaya. Dia adalah sumber cahaya yang tidak pernah padam yang mampu “menerangi” alam semesta agar bergerak mengikuti hukum-Nya, juga sebagai cahaya yang menuntun orang-orang yang beriman kepada-Nya, dan juga sebagai cahaya yang membuka penglihatan kepada orang-orang yang buta mata[hati]nya sehingga ia sadar dimana ia berada dan siapa dirinya.

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan “fitrah”. Maksudnya, manusia pada dasarnya mempunyai potensi untuk beriman yang selalu ada di dalam hatinya. Sejak akalnya diciptakan dan diberi “kemampuan untuk menerima kebenaran”—meminjam istilah Aristoteles—manusia sudah dikenalkan pada Tuhannya. Yang apabila akalnya mampu berpikir secara “baligh” ia bisa berhubungan erat (menyadari) dengan kebenaran hati yang senantiasa memancarkan cahaya keyakinan bahwa Allah itu ada. Cahaya-Nya akan selalu memancar di dalam hatinya sebagai penerang atau pembuka kesadaran bahwa manusia harus beriman kepada-Nya.

Jadi, tidak ada manusia yang tidak menyadari akan kehadiran Tuhan, meski ia seorang atheis. Tuhan yang tidak membutuhkan bentuk dalam kehidupan, itu karena kehadiran-Nya sangat terasa dalam hidup ini. Seperti kata M. Quraish Shihab, ketidak terlihatan Tuhan dalam kehidupan karena Dia sangat terasa kehadiran-Nya. Atheis hanyalah sebuah pengakuan manusia yang “merasa” tidak ada Tuhan atau tidak membutuhkan Tuhan. Sebab hakikatnya ia mengakui sebuah “kekuatan” yang senantiasa hadir dalam hidupnya dan yang menjadikannya hidup. Seorang sufi berkata, selagi manusia memiliki harapan dan ketakutan, selama itu pula ia mengakui Tuhan.

Semua manusia itu memiliki cahaya Allah SWT yang berada dalam hatinya. Akan tetapi, acap kali gemerlap kehidupan dunia membutakan matahati sehingga kita lebih terpesona oleh pancaran kehidupan dunia ketimbang pancaran cahaya Allah. Hati yang terlalu sibuk dengan kehidupan dunia, ditambah kebanggaan terhadap diri sendiri membuat cahaya Tuhan yang memancar di dalam hati tidak terasa. Ledakan syahwat dunia layaknya supernova menjadikan diri terhisap kedalam hati yang telah terbungkus dengan gemerlapnya cahaya dunia yang ada kalanya menipu.

Untuk membuka tabir gelap yang menutupi cahaya hati, manusia harus berusaha sekerasnya mendefault (mengembalikan akal dan hatinya) pada posisi awal, saat belenggu-belenggu pikiran dan kesombongan belum pernah menyentuhnya. Cobalah berpikir sejenak merasakan pancaran cahaya yang ada di dalam hati kita dengan tidak mengikat [dulu] hidup kita pada sebuah prinsip, baik atau buruknya. Netralkan akal dan pikiran dari teori-teori hidup ini, kosongkan dari kesibukan duniawi, dan pada akhirnya kita akan menyadari bahwa di dalam hati ada sebuah cahaya yang membuka kita pada penglihatan bahwa disinilah kita hidup, dan inilah diri kita yang tercipta karena Allah SWT.

Jika meminjam istilah Ari Gynanjar, seorang trainer ESQ (Emotional Spiritual Questiion), bahwa setiap hati manusia itu ada godspot (suara Tuhan). Setiap manusia menyepakati kebenaran universal, yakni di dalam hati manusia senantiasa ada yang membisikan bahwa kebenaran itu benar dan keburukan itu buruk. Orang jahat tahu apa yang dilakukannya itu salah. Meski perbuatannya salah, tapi mengakui kesalahan adalah benar. Sebab hati tidak pernah bohong. Selain itu, setiap orang pasti merasakan hal yang sama; manusia itu harus berbuat baik dan berharap dirinya jadi orang baik, dan berharap semua penjahat itu jadi orang baik. Apa itu artinya? Artinya ada “suara” yang selalu membisikan kebenaran yang sama, dan itu adalah suara atau cahaya Allah Swt. Jadi benarlah, bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan “fitrah”. Yakni manusia pada awalnya ada dalam keadaan suci dan selamanya harus menjaga kesuciannya. Dengarkan suara hati Anda: menodai sesuatu yang suci benarkah hal itu? Salah! Kalau begitu berusahalah diri kita agar menjadi yang suci (beriman kepada Allah SWT dan melaksanakan misi suci-Nya, yakni amal shaleh (berbuat baik). Wallahu A’lam.

Dasam Syamsudin, Aktivis IMM UIN SGD Bandung

Pemerhati masalah keagamaan

Minggu, 13 September 2009

Puasa dan Kesalehan Otentik

Oleh Ust. Moh. Yunus

Allah SWT, menganjurkan kepada hambanya yang berpuasa agar senantiasa mengisi puasanya dengan melakukan amal shaleh (berbuat baik). Hal tersebut dilakukan semata-mata agar hambanya bisa menumbuhkan ketaqwaan di dalam dirinya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kalian bertaqwa” (QS Al-Baqarah [2]:183).

Allah memerintahkan puasa agar hambanya dekat dengan-Nya. Tapi, justru yang ia kehendaki dari hambanya yang berpuasa adalah, agar hamba tersebut berbuat baik kepada sesamanya, menjalin hubungan muamalah yang baik dan silaturahmi yang terjaga dengan tidak mengesampingkan ibadah vertical—ibadah yang langsung berhubungan dengan-Nya (ibadah mahdoh).

Nah, oleh karena itu, di dalam melaksanakan puasa, berarti kita harus memperhatikan ibadah yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan. Dan, permasalah kemanusiaan sekarang yang paling dominan ialah permasalahan ekonomi.

Masyarakat Indonesia, saat ini, walaupun menurut sensus telah mengalami jumlah penurunan dalam jumlah kemiskinan bebarapa persen, tetap saja permasalahan ekonomi selalu jadi permasalahan nomor wahid bagi bangsa yang mayoritas beragama Islam ini. Untuk itu, kesempatam ramadhan kali ini, jika kita menghendaki kesempurnaan ibadah puasa, kita harus bisa berbuat baik pada orang lain. Artinya, saat-saat berpuasa harus menjadi motivasi dan acuan untuk membantu tetangga yang berkekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya membantu tetangga yang bingung karena saat berbuka puasa ia tidak memiliki apa-apa, atau kekurangan pangan.

Dengan demikian, puasa sebagai jalan untuk mendekati Allah SWT, harus jadi energi dahsyat untuk berusaha mengurangi jumlah kemiskinan dan kelaparan. Upaya memberantas kelaparan, kemiskinan dan anak-anak yatim atau jalanan yang terlantar atau bahkan terbuang harus jadi pemasalah kolektif bagi hamba yang merasa beragama Islam—bahkan secara kemanusiaan, bagi siapapun yang beragama.

Masyarat atau pemerintah harus sama-sama meyakini dan berusaha menggugah, untuk tidak membiarkan permasalahan ekonomi melanda bangsa ini di bulan yang suci. Apalah artinya berpuasa jika kita membiarkan orang lain kelaparan, miskin dan terbengkalai karena kekurangannya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Puasa bukan semata menahan dari hal-hal yang membatalkan saja, tapi harus betul-betul jadi ajang pelatihan dan energi dahsyat menggugah diri agar senantiasa memperhatikan saudara-saudara yang lain. Puasa untuk ketaqwaan kita kepada Tuhan, adalah puasa yang memperdulikan orang lain dari keuslitan-kesulitan hidup yang menghimpit mereka.

Sekarang, bagaimana puasa akan menjadi jalan kita mendekati Allah SWT, sedangkan kita melupakan orang lain. Padahal Allah sendiri memerintahkan agar kita berbuat peduli pada orang lain dengan memberi pertolongan berupa apapun yang baik menurut pandangan Tuhan. Bukankah Allah Mahapeduli pada hambanya, maka tauladanilah sifat-Nya itu.

Salah satu fungsi puasa adalah untuk mentauladani sifat Allah yang terlepas dari kebutuhan materi dan kebutuhan apapaun. Nah, itu juga artinya kita harus mentaladani sifat-sifat-Nya yang lain, diantaranya kepedulian terhadap orang lain. Menolong sesame manusia, itu bukan hanya dipandang baik dari segi agama, tapi dari segi kemanusiaan pun manusia dituntut membantu yang lain, sebab manusia adalah makhluk social (homo socious).

Oleh karena itu, Momentum berpuasa, sebagai ibadah yang sangat agung, harus kita gusur ke arah tersebut. Sebab, mendekatkan diri kepada Tuhan walau pun itu kewajiban setiap individu, bukan berarti harus melupakan hubungan dengan manusia lain. Lagipula, Allah SWT sangat menyukai hambanya yang berusaha mendekati-Nya dengan jalan berbuat baik kepada sesama manusia, menolong yang susah, memberi pada yang membutuhkan, dan mengangkat orang-orang yang jatuh dari ketidak semangatan hidup dan beribadah.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 184 Allah SWT menyinggung, bahwa apabila seorang hamba batal puasanya—sebab alasan tertentu bukan karena disengaja—maka salah satu kifaratnya dia harus memberi makan orang miskin. Hal itu bisa kita pahami bahwa pesan-pesan kemanusiaan dalam berpuasa amat kental, sehingga Allah memberi konsekuensi bagi yang batal dengan harus memberi makan pada si miskin. Artinya, sisi kepeduliaan terhadap sesama manusia dalam berpuasa pun menjadi hal yang sangat penting diperhatikan. Meningkatkan kualitas berpuasa berarti meningkatkan kepeduliaan pada sesama manusia.


Sabtu, 05 September 2009

Panggung Kehidupan

Oleh Neng Fiqih

Senja, saat matahari merayapi jalan kembali keufuknya. Sinarnya yang merumbai-rumbai begitu hangat laksana pelukan Bidadari. Semilir angin menghembus membisikan nyanyian dari Negeri Cinta di antah berantah. Belaian angin yang lembut, memaksa rumput yang menghampar hijau dan dedaunan yang gelayutan di pepohonan menari-nari, mengikuti nada-nada alam yang berirama. Alam adalah harmonisasi dari perpaduan berbagai unsur yang menyatu.
Bagaikan jemari yang merayapi family cord dengan terarah, menekan senarnya dengan lembut, dan memetiknya penuh irama yang lahir dari hati. Sehingga gitar bersenandung penuh keindahan, menebarkan aura kebahagiaan. Syukurilah, hidup yang tidak akan pernah kehilangan keindahannya. Sebab, semuanya anugerah Tuhan yang tiada tara.

Tuhan Berfirman, “Jadi! Maka jadilah”. Laksana panggung sandiwara. Tirai kehidupan disingkap-Nya dengan lembut. Bumi dan langit yang tadinya menyatu, dipisahkan sehingga ruang dan waktu tercipta. Dengan penuh ketaatan, semua materi, energi, sampai gelombang foton, berduyun-duyun menyatu padu membentuk dekorasi alam yang tertata rapi nan indah. Hiasan-hiasan langit ditebarkan, gemerlip bintang, kelembutan cahaya rembulan, hilir mudik awan, sampai lengkungan pelangi yang mencoret langit dengan aneka warnanya menjadi lukisan maha karya yang indah tiada terperi. Hamparan rumput diratakan menyelimuti bumi laksana karpet hijau bercahaya, gunung-gemunung ditancapkan, salju melapisi menjadi kulit beberapa pegunungan, samudera dibentangkan, daratan ditonjolkan, hutan pun didirikan dengan pepohonan yang tumbuh liar menjejalinya, dan hewan-hewan dihamburkan, semua menempati singgasananya masing-masing. Oh… betapa maha karya yang luar biasa dari Sang Pencipta.

Tuhan sangat Bijaksana mendisain “panggung ini” begitu sempurna. Untuk siapakah semua ini diciptakan?

Kata yang teruntai indah, menyentuh, deskriftif serta sempurna yang diguratkan di dalam kitab-Nya, membisikan palung jiwa. Sebuah pesan yang dibawa Merpati Putih dari Gurun yang gersang di Negeri Rasul. Alam ini memang telah mencapai dekorasi kesempurnaan dan perpaduaan yang artistik. Namun puncak kesempurnaan ciptaan bukanlah “panggung ini”. Melainkan para pemerannya, aktor yang akan memerankan skenario kehidupan yang telah di tuliskan-Nya. Siapakah gerangan mereka?

Pasukan Cahaya—para malaikat—bertanya-tanya tentang calon pemimpin yang akan menempati ruang di atas bumi dan mengalir dengan waktu di bawah surya. Mereka Manusia! Gemuruh celotehan Malaikat menggema menjejelai lelangit. Pasukan Cahaya itu protes pada Tuhan karena cintanya pada apa yang telah diciptakan-Nya. Kehawatiran menyelimuti Pasukan Cahaya, takut-takut kalau sang pemimpin dunia ini merusak mahakarya tiada tara. Tuhan, membelai para malaikat dengan kalam yang menyentuh. Malaikat pun tertunduk mengerti.

Awalnya dia hanyalah sebuah lempung yang beragam, dicampu-campur lalu diadon. Bentuk sempurna pun tercipta. Tubuhnya masih kaku seperti patung, lalu ruh yang ditiupkan Tuhan beterbangan, berputar memperhatikan sosok yang akan dihuninya. Manusia pertama tercipta. Alam menjerit?

Tidak ada, bahkan tidak boleh makhluk bersujud kepada makhluk lain. Tapi untuk Adam. Lihatlah! Pasukan Cahaya pun sujud penuh ketaatan karena Tuhan. Mengapa makhluk ini begitu dimanjakan? Mengapa makhluk ini mencapai kesempurnaan kehidupan? mengapa makhluk ini begitu pintar? Mengapa makhluk ini mendapat surga? Alasannya hanya satu. Mereka pemimpin. aktor yang akan memerankan skenario yang telah di tulis Tuhan dengan Qolam-Nya. Jika mereka mampu mengikuti skenario-Nya. Panggung keindahan yang sesungguhnya telah menantinya di Negeri Akhirat. Namun, jika peran mereka buruk. Tidak ada panggung yang indah. Yang ada hanya gemuruh cemooh penuh caci dari penonton sandiwara ini. Siksa akan kita rasa.[]

Sabtu, 07 Maret 2009

Pesan Seorang Mujahid

Oleh Rizal fauzi

Langit telah menyembunyikan dirinya, malam telah menyelimuti sisa cahaya surya yang hamper pudar. Aku, ibu dan ayah duduk diruang tamu. Menonton siaran televisi. Sedangkan aku, berusaha menjawab pertanyaan ayah, tentang kondisi dan hasil yang aku dapatkan selama kuliah. Setelah ujian akhir semester, aku memang tidak tinggal di Cairo. Memutuskan menghabiskan masa libur dengan Orangtua.
Malam itu, disela-sela keharmonisan kami. Seorang utusan mujahid Hamas, memberikan surat pada ayahku. Aku tidak mengenal orang itu, tapi aku ingat betul apa yang diucapkannya,

“tentara zionis telah memasuki Gaza. Mereka telah membunuh banyak penduduk, menganiaya dan menawan anak-anak kecil”.
Aku mengerti maksud ucapan itu, dan tahu isi suratnya. Karena itulah aku memaksa ayahku agar mengizinkanku pergii berperang. Kami berdialog cukup lama, ibu meninggalkan kami masuk kamar. Sedangkan aku terus maksa ayah.
“Ayah, biarkan aku saja yang pergi”
“Gak Usah, selesaikan saja kuliahmu!” Kata-kata terakhir ayahku, menutup percakapan kami, sebelum ia masuk kamar menemui bunda.

Namun, ayahku tidak menghiraukan ucapanku. Dia bahkan menyuruhku kembali ke Kairo, untuk menyelesaikan kuliah. Sungguh aku tidak mengerti apa yang ia katakana. Kebingungan it uterus aku pikirkan sampai aku tertidur.
“Ahmad, bangun! Ayahmu akan pergi” ibuku membangunkan.
“Mana ayah?” Aku penasaran, apakah dia benar-benar akan pergi.
“Sudah masuk mobil jemputan mujahid” ibuku menjelaskan

Mendengar itu, aku bangun dan berlari menemui ayahku yang sudah masuk mobil. Baru saja aku membuka pintu rumah. Ayah menatapku dan melambaikan tangannya dihiasi dengan senyuman. Senyuman yang penuh getir, karena meninggalkan keluarga. Tidak ada kehawatiran pergi ke medan perang bagi dirinya. “Tapi, kalianlah yang aku kawatirkan”, ucapannya, dalam percakapan kami malam tadi.

Tak ada pesan yang dia ucapkan, bahkan salam dan sentuhan tangannya pun tidak aku rasakan. Tetesan air mata, membasahi lantai yang aku pijak. Sedang ibu, menangis semabari menutup wajahnya diatas sopa. Aku dan ibu tahu betul apa yang akan terjadi di medan perang. Banyak mujahid dari kampungku yang tidak kembali. Meninggalkan anak yatim yang harus diurus oleh seorang janda.
“Bu, jangan menangis terus. Ayah pasti kembali” aku menyapa ibu, menenangkannya dari kesedihan.
“bukan ayahmu yang aku kawatirkan. Tapi kuliahmu. Ayahmu ingin kau jadi ulama pintar, agar bisa membimbing orang-orang” Ibuku menasehatiku.
Aku tidak mengerti. Kenapa ibu lebih menghawatirkan aku. Padahal ia jelas mengetahui kejamnya dan penderitaan perang.

Setelah aku selesai shalat subuh, yang belum sempat aku kerjakan karena mengejar ayah. Aku menemui ibu yang belum berhenti meneteskan air mata, “bu, kenapa ibu dan ayah menghawatirkan kuliah?”
“Dulu, ibu dan ayah pernah mengalami betapa kejamnya perang. Bahkan, saudara kandung ayahmu meninggal di depan matanya. Kami sangat menderita, mayat dimana-mana, anak-anak banyak yang jadi yatim, ibunya menjadi janda, dan ulama banyak yang meninggal. Mengalami semua itu, ayahmu berjanji akan menyekolahkanmu sampai jadi ulama. Ia tidak menginginkan apa yang ibu dan ayahmy alami terjadi padamu”
Menjeleaskan itu, ibu mengusap kedua airmatanya. Dan mengelus kepalaku. Seakan-akan ia menyimpan sebuah harapan.

Sekarang aku mengerti apa yang dikawatirkan mereka. Ia tidak hanya menghawatirkanku. Tapi, umat, masyarakat kampung ini dan kampung lainnya yang telah kehilangan banyak ulama. Aku mengerti pesan mujahid—ayahku, berjihad bukan hanya berperang. Melainkan mencari ilmu yang bermanfaatpun adalah jihad. Terlalu banyak umat masa kini yang membutukan ulama yang solih. Itulah pesan sang mujahid.

Jumat, 27 Februari 2009

Menyeimbangkan Pengetahuan Umum dan Agama

Oleh Moch. Dahlan

PENDIDIKAN umum dan agama di Indonesia saat ini secara umum masih terpisah. Misalnya, hal yang sangat kontras adalah lembaga pendidikan Umum dan lembaga pendidikan Pesantren. Pada dasarnya, hal ini tidak salah, memang terkadang manusia membutuhkan keahlian pada bidang-bidang tertentu untuk profesionalisme. Akan tetapi, pendidikan secara umum tidak diartikan sebagai proses merubah manusia yang bodoh menjadi manusia yang pintar dan berintelektulitas tinggi. Melainkan, dengan pendidikan manusia diharapkan menjadi orang yang berguna, mempunyai intelektual yang tinggi juga mempunyai karakteristik yang mulia sejalan dengan pesan moral keagamaan. Bahkan, sebagian masyarakat berasumsi bahwa yang terpenting dari pendidikan adalah perubahan moral agar lebih baik. Untuk mencetak peserta didik yang intelek juga mempunyai moral yang baik maka dibutuhkan kepaduan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Saat ini, jika Orang Tua ingin mempunyai anak yang soleh dan pintar terhadap berbagai disiplin ilmu. Maka, ia harus memasukan anaknya kedua lembaga pendidikan yang berbeda, yaitu sekolah umum dan pesantren. Dan realita objektif menunjukan jumlah peserta didik yang terbanyak dimiliki oleh sekolah umum, sedangkan lembaga pendidikan pesantren peserta didiknya sedikit. Jumlah yang sedikit itupun tidak semuanya sekolah, ada yang hanya mesantren saja (memperdalam ilmu agama) sehingga pemahaman pada ilmu umum secara komprehensif tidak dimilikinya. Jika hal ini terus dibiarkan akan menimbulkan kesulitan dalam mengkolaborasikan pendidikan tersebut minimal mereka ada keterlambatan waktu jika hendak memperdalam keduanya.

Lembaga pendidikan saat ini yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum adalah madrasah dan sekolah-sekolah Islam yang mayoritas sekolah swasta. Perpaduan ini pun tidak seimbang karena pendidikan umum lebih banyak dipelajari dari pada pendidikan agama. Kalau pun ada yang fifty-fifty yaitu diseimbangkan secara komprehensif tapi madrasah atau sekolah itu jumlahnya SEDIKIT.

Lembaga pendidikan umum dan pendidikan Pesantren

Lembaga pendidikan umum diidentikan dengan lembaga pendidikan yang mencetak manusia-manusia yang berintelektualitas tinggi saja, menurut sebagian masyarakat. Sehingga, sekolah-sekolah umum dianggap sebagai sekolah yang kurang memperhatikan masalah moral karena minimnya pengajaran pelajaran agama. sekolah-sekolah umum menyajikan pendidikan agama selama seminggu hanya dua jam. Waktu ini memang relatif singkat apalagi jika bidikan utama pelajaran ini perubahan moral. Memang tidak ada sekolah yang akan membiarkan para siswanya mengalami degradasi moral. Tapi, karena pengajaran agama yang relative singkat ini, apalagi jika pengajaran pemahaman agamanya tidak komprehensif, maka waktu dua jam ini kurang kuat untuk mendoktrin para muridnya agar memiliki akhlak yang baik dan merealisasikannya kedalam realita sosial.

Sama halnya dengan pesantren, masyarakat banyak yang berasumsi bahwa lembaga pendidikan pesantren diidentikan dengan pendidikan moral yang mementingkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia. Sehingga, para santri yang mengaji dipesantren kurang memahami ilmu diluar itu dan bahkan mengacuhkannya, karena anggapan mereka epistimologi dari ilmu umum sangat minim. Sebenarnya, paradigma seperti ini keliru. Jika pesantren hanya memperhatikan masalah agama dan menyelimuti para santrinya pada teks-teks keagamaan saja. Maka, para santri akan tertinggal dan tidak bisa mengaktualisasikan dirinya dengan realitas sosial yang terus berkembang.

Tugas pendidik

Realitas seperti ini, memang sulit untuk dicari jalan keluarnya. Mengkolaborasikan pendidikan secara komprehensif apalagi dari sudut kelembagaan memang tidak mudah. Sebetulnya sistem pendidikan seperti ini tidak buruk, hanya saja jika hal ini digusur pada dikotomisasi pendidikan seperti kebanyakan sekolah saat ini maka akan melahirkan anak didik yang kurang perfeksionis. Jika anak didik yang terlahir dari dunia pendidikan umum dan kurang pemahaman agama, maka generasi bangsa ini akan banyak sekali yang kurang bermoral. Sebaliknya, jika jebolan anak didik pesantren tidak memahami ilmu umum maka generasi bangsa ini akan tertinggal. Jika hal itu terjadi akan berimplikasi pada pemerintah yaitu antara pemerintah tidak bermoral dan Negaranya tidak maju.

Sebagai solusi alternative, seorang pendidik harus memberi pengajaran dan pemahaman ilmu kepada peserta didik dengan tidak memberi doktrin yang menutup nalar anak menerima pendidikan diluar mata pelajarannya. Disamping itu, .yang terpenting seorang pendidik tidak hanya menggempur peserta didik agar menjadi orang yang berintelektualitas tinggi. Tetapi, seorang pendidik pun harus bisa mengajarkan nilai-nilai humanitas dan relijiusitas, agar antara intelektual, emosional, dan spiritual anak seimbang. Hal ini harus sangat diperhatikan dan diaplikasikan, karena seorang pendidik atau guru adalah yang menentukan arah peserta didik. Jika seorang guru bisa melakukan hal ini, maka kontruksi pemikiran peserta didik tidak akan mendikotomi ilmu dan memandang keduanya penting. Al-hasil seorang anak didik lulusan sekolah atau pesantren tidak akan ketinggalan zaman dan tetap mempunyai moralitas yang baik.

Pendidikan agama dan pendidikan umum pada dasarnya sama dan seharusnya tidak ada istilah ilmu agama dan ilmu umum semuanya identik. Tapi, karena paradigma masayarakat kita demikian bahkan terealisasi dalam kelembagaan sehingga ada lembaga pendidikan sekolah dan pesantren. Maka untuk mencetak peserta didik yang berkompenten seorang pendidik harus bisa mengajarkan dan meciptakan seorang siswa yang berintelektualitas tinggi, nilai humanitasnya baik dan aura relijiusitasnya kuat dan ketiganya terpatri di dalam peserta didik. Pastilah seorang pendidik dan guru itu termasuk orang yang menyukseskan orang lain dan memberi kontribusi pada bangsa sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Orang Tua dan Pendidikan Agama Anak

Oleh YANTO ASYATIBI

Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Q.S. Lukman: 13)

BANYAK orang tua yang berharap kelak anaknya menjadi seorang yang sukses dan pintar. Paradigma seperti ini, sebagian besar ditujukan pada kesuskesan dunia semata tanpa memikiran kesuksesan di akhirat. Padahal, jika para orang tua berpikir jernih tentang arti kesuksesan hidup, pasti mereka akan berpikir, betapa pentingnya menyelamatkan anak dari jerat duniawi (godaan hidup di dunia).

Tidak salah berharap anak sukses, akan tetapi jangan hanya didunia, terlalu sempit harapan itu, karena kesuksesan akhiratnya jauh lebi penting dan tentu lebih besar. Dunia hanya perahu tempat kita berlayar, sedangkan akhirat pelabuhan terakhir kehidupan, dimana tidak akan kita temui usaha untuk hal apapun. Semuanya telah ditentukan di dunia, maka rasional ukuran kesuksesan umat Islam adalah menyelamatkan anak dari gelombang-arus dunia yang bisa menyeret pada kesengsaraan hidup kelak diakhirat.

Oleh karena itu, orang tua muslim seharusnya sudah mulai mementingkan pendidikan agama pada anaknya sejak dini. Pentingnya pendidikan ini disebabkan kewajiban mutlak mendidik anak adalah orang tuanya. Menyayangi anak bukan berarti membuainya dengan kehidupan dunia semata, namun akhiratnya harus jauh lebih dipersiapkan sejak dini.

Sebagai ciri perhatian utama orang tua terhadap pendidikan agama anak. Baik halnya jika mereka (baca: anak-anak) sejak dini dikenalkan pada Tuhan-Nya. Hal itu tidak sulit, mengenalkan beragam asma-asma Allah Swt, menjaganya dari pemahaman mistik yang menjeratnya pada kemusyrikan dan juga memperkenalkan kekuasan-Nya, “siapa yang menciptakan alam raya ini” misalnya,. Hal ini bukan sepertinya mudah, memang sangat mudah, jika para Orang tua mengerti dan melakukannya.

Disamping itu, untuk menumbukan kesemangatan anak dalam menjalani tahap pengenalan hidup. Seorang anak harus dimotivasi, bahwa apabila mereka melakukan amal kebaikan (beramal saleh), maka akan mendapat pahala dan pujian dari Allah Swt. Dan apabila mereka berbuat hal tidak baik, akan mendapat dosa dan celaan dari Allah swt.

Dengan demikian, anak itu akan kritis dan bertanya-tanya tentang Tuhan-Nya, arti pahala dan dosa, alam ini kenapa ada dan miliki siapa dan lain sebagainya. Sudah barang tentu cara mendidik seperti ini akan menumbuhkan dua aspek positif. Pertama, merintis keimanan anak dan yang akan melahirkan perangai yang baik, dan yang kedua menumbuhkan sikap kritis anak terhadap apa yang belum ia ketahui. Sajian ruhaniyah ini, kendati hanya berupa perkenalan, diusahakan agar pemahan tersebut mudah dimengerti.

Seperti pendidikan agama yang telah dipraktekan Luqman terhadap anaknya di dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 13, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Kata-kata ini memang masih umum (belum diperhalus) sehingga sukar dimengerti oleh anak. Cuma, yang harus jadi catatan, mengenalkan tentang eksistensi ketuhanan terhadap anak arti pahala dan dosa. Itu akan memotivasi anak berbuat kebajikan seperti, memberi pada sesama, saling tolong-menolong, dan lain sebagainya. Memperkenalkan dosa, akan menumbuhkan kebiasaan takut terhadap kemarahan Tuhan dan merasa bersalah jika melakukan hal yang tidak baik, misalnya mencuri, berkelahi, menghina atau menangisi teman perempuannya (jika ia anak laki-laki), dan hal lain sebagainya.

Kalau hanya mendidik anak dengan menakuti akan kekuatan manusia, misalnya, “jangan menjaili anaknya pak anu…. Nanti bapaknya marah”. Wah, hal ini berbahaya. Bagaimana tidak? Pemahaman itu bisa dimengerti oleh anak karena ia masih kecil, kalau sudah besar, sedah remaja atau pemuda yang gagah dan jantan. Bisa-bisa bukan hanya jail tapi lebih dari itu. Kita harus ingat, memberikan pendidikan agama pada anak sedini mungkin, itu untuk bekal pembentukan karakternya kelak saat ia mencapai usia dewasa (baligh).

Kalau pendidikan agama dilakukan setelah ia dewasa, itu tidak mudah karena kemungkinan besar anak jika sudah dewasa pemikirannya sudah dikonstruk oleh lingkungan. Sehingga, apabila ia diberi pemahaman lain, apalagi tentang agama yang kadang kala tidak bisa diterima akal (irasional), sukar orang tersebut menerimanya. Apalagi, jika ia sudah asyik dengan dunia glamour dan betah bergaul tanpa batasan keagamaan.

Maka, para Orang tua harus membiaskan mendidik anaknya terhadap pengetahuan agama agar ia mempunyai perangai yang baik. Sehingga ia akan terbiasa berbuat kebajikan karena Tuhann-Nya dan menjauhi hal tercela karena Tuhan-Nya, bukan karena ada bapak anu…yang lebih kuat.

Yanto Asyatibi
Pimpinan Yayasan Pemberdayaan Umat PonPes al-Furqon Muhammadiyah Cibiuk-Garut

Rahasia Makna “Ba” di Dalam Lafadz Bismallah…

Oleh Tony Ardhy

“Setiap perbuatan yang baik, tidak diawalai dengan bacaan basmalah (sebelum melakukan aktivitas). Maka, amal perbuatan itu putus ( tidak sampai kepada Allah)—berkurang atau sedikit berkah”. (Khobar Rasulullah)

Ada banyak alasan para ulama kenapa menempatkan kalimat “Bismillahirohmanirrahim” sebagai awal pembuka dari pembahasan atau aktivitasnya. Namun dari sekian alasan itu, yang paling popular ada dua”
Pertama, mereka mengatakan bahwa, “Basmallah” harus selalu yang pertama diucapkan atau ditulis karena menghormati atau mengikuti gaya bahasa sastra di dalam al-Quran—alasan ini memang khusus dalam pengarangan kitab atau tulisan—Sebagaimana setiap surat di dalam al-Quran selalu diawali dengan basmallah kecuali surat at-Taubah [9]. Seperti menurut Ibnu ‘Aqil, “Semua itu dilakukan karena menghormati al-Quran semata” (iqtidaan lilkitabil’aziz).
Alasan kedua, karena ada khobar Rasulullah Saw yang memerintahkan agar setiap aktivitas hendaknya diawali dengan membaca basmallah. Sebagaimana kutipan hadits diatas. Yang jadi pertanyaan, bukan kenapa basmallah harus selalu diucapkan atau dibaca sebagai pembuka aktivitas. Tapi, ada apa (barangkali: rahasia) dengan basmallah, sehingga kalimat itu harus dibaca dalam memulai segala aktifitas?

“Isti’anah”

Dalam menanggapi hal ini, kiranya kita bisa sedikit membuka dan menguak “rahasia huruf ba” di dalam lafadz Basmalaah melalui pendekatan sastra bahasa al-Quran yang diantaranya “ilmu Nahwu”. Di dalam Khosyiyatul-Khudhori syarh (menjelaskan) alfiyah Ibnu Malik sebagai salah satu kitab alat—metode cara membaca tulisan arab—menerangkan, bahwa “ba” di dalam lafadz bismillahirroh-manirrahim mempunyai beberapa makna diantaranya isti’anah.
Isti’anah arti sederhananya adalah “meminta pertolongan”. Sudah barang tentu permohonan pertolongan ini ditujukan kepada Allah, karena hanya Dia yang Maha Pemberi pertolongan. Jadi, apabila kita membaca basmallah dalam mengawali segala sesuatu. Maka, sesungguhnya selama kita mengerjakan aktivitas itu, selama itu pula Allah akan menolongkan kita dengan memberikan kemudahan jika itu suatu kesukaran. Dan, Allah akan memberi pertolongan berupa jawaban atau solusi jika itu suatu persoalan.
Itulah, mengapa Rasulullah menganjurkan kepada umatnya agar selalu membaca basmallah. Bahkan—bukannya beliau keras—Rasulullah mengancam umat Islam yang tidak membaca basmallah setiap kali memulai pekerjaanya dengan mengatakan, “Setia perbuatan yang baik, tidak diawalai dengan bacaan basmalah (sebelum melakukan aktivitas). Maka, amal perbuatan itu putus—berkurang pahalanya atau sedikit berkah”.
Bayangkan, jika perbuatan ini berupa amal soleh seperti menolong orang, bersedekah, puasa, zakat atau perbuatan ihsan lainnya. Jika kita lupa atau memang tidak membaca basmallah, maka amal kita itu sedikitnya akan rugi. —dengan tidak mengatakan sia-sia—karena berkah atau pahalanya berkurang—dengan tidak mengatakan hilang.
Oleh karena itu, membiasakan diri membaca basmallah di dalam memulai segala perbuatan yang akan kita kerjakan, harus kita lakukan dari sekarang. Apa yang di anjurkan oleh Rasulullah, sudah barang tentu kebenaranya. Di samping itu, dengan membaca basmallah ketenangan, konsentrasi serta kemudahan pasti akan kita dapatkan. Sebab, Allah akan menolong kita sebagaimana alasan diatas.
Di sisi lain, membaca basmallah akan membuka kesadaran kita, bahwa segala sesuatu itu telah Allah kuasi dan tentukan. Jadi, berhasil, baik-bagusnya proses yang kita jalani senantiasa akan dikembalikan kepada Allah, dan hal ini sudah barang tentu upaya peningkatan kesadaran keimanan. Bagaimana tidak? mengingat (dzikir) kepada Allah adalah “ibadah”, kendati itu dilakukan dalam bekerja dan hanya dirasakan di dalam hati.
Terlebih lagi, membaca basmallah, berarti kita telah merealisasikan dzikir kita itu terhadap perbuatan, bukan semata ucapan dan ingatan. Maka, sangatlah efektif basmllah di baca sebelum memulai pekerjaan kita. Wallahu A’lam[]

Minggu, 09 November 2008

Narojil Ustadz

Oleh SIDIK DAN AYUB

Malam ini aku dan dua temanku yaitu Sidik dan Ayub kebagian jadwal meronda. Setelah kami menghafal. Bukan kami tapi Sidik dan Ayub bosan menghafal, mereka menemuiku yang sedang mengamati keindahan alam.

“Kak lagi lihat apa?” kata ayub ikut campur urusan orang.

“Alam Allah. Lihat! Pohon kelapa itu buahnya lebat dan hijau” dari tadi aku memang memandang buah kelapa. Aku bertafakur tentang ciptaan Allah yang satu ini. Kayaknya seger kalau ku minum airnya.

“Yub, Dik, nanti malam kita beraksi ya” aku bertanya pada mereka dan mata masih melihat kelapa.

“Siap! Eh… beraksi apa Kak?” Sidik balik nanya

“Ada aja” kataku sambil tersenyum dan memandang kelapa

Sidik dan Ayub heran melihat aku yang dari tadi memandang kelapa. Mereka pun saling beradu pandang mungkin heran. Setelah itu mereka juga memandang kelapa. Jadi, kami bertiga memandang kelapa. Tak selang beberapa detik mereka ikut tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala dan memandang kelapa. Aku, Sidik dan Ayub tersenyum memandang kelapa. Dan bukannya sombong, senyum aku lebih bagus dari mereka. Aku tahu mereka tersenyum karena mengerti niatku. Aku bangga pada mereka. Mereka ngerti apa yang aku mau tanpa harus berkata.

Jam sepuluh masjid sudah tak ada siapa-siapa. Yang tadinya ramai menjadi sepi karena para santri sudah kekamar dan pada mau tidur.

“Siapa yang meronda Sem?” kata keamana yang lewat memandang aku.

“Kelapa. Eh… saya, Sidik dan Ayub” mendengar jawabanku keamanan kaget.

Keamanan heran kenapa kami bertiga bengong seakan lagi bertafakur. Keheranan keamanan terpecahkan setelah memandang arah yang sedag kami lihat. Keamanan melihat kelapa yang kami pandang. Dan tiba-tiba ia juga tersenyum dan menganggukan kepalanya sambil memandang kelapa. Karena senyum keamanan kami bubar. Entah kenapa keamanan terus mendang kelapa dan tersenyum terus sambil mengangguk-anggukan kepala dan terkadang menggelengkannya.

“Yub, Dik. Kita kewarung ma Engkai yu! Belanja buat malam” aku mengajak temanku dan meninggalkan keamanan yang memandang kelapa.

“Ayo” kata Sidik dan Ayub kompak.

Setelah kami kembali dengan membawa mie, ikan asin dan bahan sambal. Kami duduk di depan masjid sambil ngobrol.

“Baru jam sebelas, masak tiga jam lagi” gerutu Sidik sambil cemberut.

“Iya, aku juga lapar. Apalagi kerongkonganku belum disiram air” kata Ayub bersedih

Mendengar gerutu temanku yang kurang suka dengan kondisi ini. Aku memandang kelapa dan tersenyum.

“Dik, Yub!” aku memanggil mereka dan mengangkat daguku menunjukan kelapa yang hijau. Dengan isyarat ini mereka paham dibalik kehausan kami ada solusinya.

“Yub kamu aja” kata Sidik sambil meletakan bungkus ikan asin.

“Emang gak apa –apa kak ngam…” Ayub penasaran dan langsung ku potong ucapannya.

“Engak… gak apa-apa. Itukan miliki pesantren kita semua” aku meyakinkan Ayub.

“Ok! Kalau begitu malam ini kita party kelapa” kata Ayub semangat sambil membuka sarungnya dan baju ngajinya.

Kami bertiga pergi kearah pohon kelapa yang ada di kebun Kiai. Kulihat ayub sangat bersemangat dan menggerakan tubuhnya kekiri dan kekanan sebagai pemanasan.

“Yub, hati-hati” aku berkata padanya dengan suara pelan

“Tenang Kak. Aku kan juara panjat pinang 3 kali berturut-turut”

“Kak! Kayaknya ada orang menuju kearah sini?” kata Sidik sambil berbisik ditelingaku, dan menunjukan arah orang yang sedang berjalan terendap-endap.

“Iya… kayak Keamanan Pesantren” itu aku yang bicara sambil melihat arah datangnya orang asing itu.

“Iya Kak, ayo kita sembunyi” Sidik mengajaku sembunyi dan menarik kedua tanganku masuk kedalam semak-semak.

Sementara aku dan Sidik bersembunyi. Kulihat Ayub sudah sampai kepuncak pohon kelapa dan menepuk buah kelapa. Ayub terus memilih buah kelapa yang tepat tanpa menyadari ada keamana yang sedang patroli atau mungkin…… mau mencuri kelapa? Jelas. Akurat! Keamanan itu melihat kekiri dan kanan memperhatikan lingkungan sekitar. Kemudian dia membuka sarungnya dan mulai memanjat untuk meraih cita-citanya meminum air kelapa.

Keadaan sangat genting. Ayub sungguh dideru masalah yang sangat besar. Hanya ada dua pilihan baginya hidup atau mati. Seandianya aku bisa memberitahukannya aku akan menyarankan padanya agar lompat dari pohon kelapa yang tingginya 14 m. Karena, menurutku lebih baik melompat dari pada ketahuan keamanan dan menanggung aib seumur hidup. Tapi pilihan Ayub salah ia tetap diam dan sembunyi diantara daun kelapa yang rimbun.

Keamanan sudah mencapai dahan kelapa. dan mulai duduk di dahan yang berbeda dengan Ayub. Keamanan mencari kelapa segar dan berputar dipohon kelapa. Ayub pun sama berputar menyembunyikan dirinya dengan arah yang berlawanan. Dan akhirnya,

“AAAAWWWWW….. Allahuakbar…. “ Keduanya menjerit karena saling memandang kaget. Jeritannya sangat keras dan memecahkan keheningan malam. Sampai banyak yang bangun termasuk Kiai dan para Ustadz. Mereka berlari kencang, tegang dan penasaran ada apa yang terjadi. Sesampainya di TKP (tempat kejadian perkara). Ustadz Toni menyorotkan lampu dan jelas sekali mereka ketangkap basah.

Melihat kejadian itu semua santri tertawa senang dan ada yang senyum pelit hanya mengangkat sedikit bibirnya. Semua santri sepertinya gembira melihat dua santri itu susah. Bahkan, ada yang lebih senang dan tertawa lebar sekali melihat kejadian itu, yaitu aku.

Esoknya, Ayub dan keamanan tidak dihukum apa-apa. Hanya saja mereka ditertawakan santri. Mungkin lucu melihat Ayub dan keamanan diberi hadiah oleh Kiai yaitu kalung. Mereka sepertinya sedih memakai kalung yang disusun dari sepuluh buah kelapa. Al-hamdulillah aku dan Sidik selamat. Sekarang aku yakin bahwa Allah sayang padaku. Itulah aku. Aku yang merencanakan Ayub yang sial. Ha…. Ha…. Senangnya.

Nyi Aisya

Carpon KAK DASAM

Ayeuna geus jam satengah sabelas peuting, tapi simkuring hariring teu bisa sare. Inget ka Qori’ah nu bie ngaos Al-Quran kacida alusna, ceuk paribasa saha bae jalmi nu ngadanguna pasti hatena bakal tinggeleter (wajilat qulubuhum), gumeter karna raos kadanguna jeung nu langkung matak ngageterkeun kana hate nyaeta kunu gaduh sowanteuna nyaeta Nyi Aisya. Ari Nyi Aisya teh putri Pangersa Ajengan Abdullah Al-‘Alim, nu raos ngaos Al-Qurana tur nu geulis rupina, bodas nyacas awakna nu matak ngajadaikeun manah para santriawan gumeleter nya kaleubeut simkuring. Opat tahun ngedekeutan Nyi Aisya tapi can wani nepi ka ngomong resep mah. Tapi ceuk nyi Ii cenah mah Nyi Aisya kungsi resep malah sok nananyakeun bae. Enjing dinteun Jum’at, pasantren libur jeung biasana santriawati sok nyareuseuh di walungan cimanuk sumawona Nyi Aisya. Mun kieu mah simkuring rek geuwat sare supados tiasa ningali bentang pasantren ngagusrek nyeuseuh raksukana, tapi maksad nu utami mah rek ngomong kana yen simkuring cinta ka anjeuna.

Gulidagna cai Cimanuk nu koneng kasorot panon poe can katinggali aya jalmi nu nyoo eta cai. Simkuring nangkring dina tangkal jati gigiruen cukang kayu bari nempelkeun leungeun ka tarang kawas jalma nu hormat mencrongkeun pangningali tikidul ka keler mapay panjang walungan milarian Nyi Aisya jeung rombongan nyeuseuhna sugan geus aya disisi walungan keur nyareuseuh. Poe biki panas tapi panon teu ningali Nyi Aisya. Simkuring akhirna diuk dina pangpang jati baris ngantosan istri nu salami iyeu dipepeling dina manah, kapikiran dina akal.

“Nyi... enggal” simkuring rewas ngadangu sora nyi Imas ngagero “Nyi....”, “Nyi sahanya?” gerentes hate simkuring. Boa- boa Nyi Aisya. Simkuring langsung nangtung ninggali jalan satapak nu nyambung kacukang ningali Nyi Aisya nu gagalemboyan mawa seuseuheun pangtukangna.

“Imas... antosan atuh” Nyi Aisya ngagero

“Nya enggal, I... bantosan atuh si Nyai karunya”. Nyi Imas miwarang nyi Ii Karlina.

“Muhun teh...” nyi Ii ngawaler. “Nyai kadieukeun raksukana, wios abdi weh nu nyandak” carios nyi Ii bari ngasongkeun panangana ngarawel raksukan Nyi Aisya.

“Wios nyi... teu kedah abdi ge kiat, ngan jalana leueur wungkul iyeu teh janten sesah mapahna” waler Nyi Aisya rada panjang.

“Nya kede atuh mapahna bilih geubis”waler nyi Ii. Nembe ge nyarios. GEDEBLU!!! “Aduhhh!!!” Nyi Ii labuh nangkarak beungkang dina leutak jalan nu leueur.

“MODAR SIA” dina manah simkuring ningali nyi Ii labuh rada bingah, sanes rada ketang bingah. Bongan beheula simkuring dibejakeun teu ngaji ku nyi Ii ka Pengersa nu jadi simkuring di ambeukan.

“Nyi teu kunanaon?...” saur Nyi Aisya bari ngarawel panangan nyi Ii kalayan ngahudangkeun. “Nyi Imas bantosan atuh nyi Ii karunya, pang candakankeun raksukana” gumero Nyi Aisya.

“Muhun” waler nyi Imas. “I matakna ari leumpang teh pake panon tong make tuur. Ucap nyi Imas rada jengkeul.

“Atuh da teu apal Imas, pan abdi teh nuju ngalieuk katukang mikakade ka Nyi Aisya, eh... kadon abdi nu geubis” tembal nyi Ii. “nuhun atuh tos ngabarantosan” sambung nyi Ii.

Simkuring masih nagkring dina pangpang jati ngingali Nyi Aisya, nyi Ii jeung nyi Imas nu geus ngalanjutkeun perjalanana.

“Tuh cukang Cimanuk tos katingali, bade nyeuseuh di handapeun cukang atanapi di pentas walungan?” tanya nyi Ii bari ngebeneurkeun pakeanana nu bobolokot jeung kusut akibat tina labuh bieu.

“Ah teu langkung bade dimana ge” waler nyi Imas.

“Di pentas walungan weh, raos ariuh” sambung Nyi Aisya.

“Hayu... atuh” waler nyi Ii jeung nyi Imas.

“Al-hamdulillah teu dihandapeun cukang” ucap simkuring bari laun. Mun handapeun cukang tangtu simkuring bakal ka panggih, margi ieu tangkal jati gigireun cukang pisan. Pas Nyi Aisya jeung rencangna ngaliwat cukang simkuring nyumput ka pangpang jati nu badag supados teu katinggal. Nyi Imas geus tiheula nyukang, pami Nyi Aisya jeung nyi Ii ditarukang bari silih tungtun, jiganamah sieuneun labuh.

“Nyi... I... enggal” gorowok nyi Imas dipentas walungan geus nepi.

“Muhun” saur nyi Ii. “nyeuseuhna handapaeun tangkal jati nu ageng supados iyuh” sambung Nyi Aisya.

“Muhum putri ajengan” waler nyi imas bari rada heureuy.

Nyi Aisya jeung rencangna tos dugi ka tempat nyeuseuh tinggalucrek nyeuseuh pakean. “Aisya... Aisya... kacida geulisna diri enjeun, awak lumampay, irung mancung, bodas nyacas, ngajina pinteur... duh Gusti nun pangeran abdi. Abdi tulungan... pasihkeun nyi Aisya ka kang Syamsudin” gerentes hate simkuring bari ninggali Nyi Aisya nu kabaseuhan kucai Cimanuk kalayan tiung dibeulitkeun ka beuheung nambah geulis ka rupana.

Nalika simkuring keur noong khusu’ ka Nyi Aisya, rarasaan aya sato nu tinggarayang tibis ka pingping baris nepi kapalangkakan jeung jiganamah bakal nepi ka... ADUHHH!!!... AAAWWW!!! EMMMMAAA.... AISYA.. EH EMMAAA!!!! enya eta sato nepi ka “Si ujang farji mastaka alit???”nyoco pisan helmna simkuring ngagorowok teu eling nyebut nyi Aisya.

GEDEBLU!!! “Aya naon etanya aaduhan bari nyebat nami simkuring” saur Nyi Aisya rada bingung.

“Duka” sambung nyi Imas oge bingung.

“Jiganamah sora jalmi nu geubis ti tangkal jati gigireun cukang walungan” saur nyi Ii.

“Muhun, hayu atuh urang teang” waler Nyi Aisya.

“Hayuuua” waler Imas jeung Ii.

Blag- blig- blug sora jalma mentas di cukang bari lumpat Boa – boa Nyi Aisya jeung rencangna. Simkuring teu pati paduli rek sasaha ge nu penting simkuring rek maehan iye sato nu ngagarayang ka si ujang farji??? Karek ge simkuring ngodok kacalana.

“Kang Udinnnn.....” ucap Nyi Aisya rada rewas jeung ngarewaskeun simkuring.

“Ehhh Ny...Nya...Nyai” simkuring era bari ngaluarkeun leunguen ti calana.

“Ehhh Samsudin... kunaon geubis? Ucap nyi Ii rada bingah.

“Noongnya...” tambah nyi Imas rada curiga.

“Hhhh....henttt... henteu” jawab simkuring bari nyomot jeung miteskeun sireum rarangge nu kacomot ti calana samemeh maranehna datang.

“Ah bohong... naha bet aya didieu bari labuh ti tangkal jati” tambah nyi Ii lewih ngadesek. “Ngakuuu atuh kang” tambah Imas naokidan Ii

“Hhhheennnntttteeuuu...” simkuring jawab bari nahan nyeri ti sirem nu masih nyoco ka... helm simkuring.

“Naha kang ngawaler teh ni murinding kitu, nyeri nya?” ucap nyi Aisya bari dongko mantuan simkuring hudang.

“Ahhh biasa aja Nyi.....” jawab simkuring. “AWWW!!!” nyoco dei siremna.

“Matak ge Din ari resep ngomong... tong pake acara noong sagala” ucap nyi Imas sinis. “Muhun teu kenging diungkeb di jero manah, tinggal ngomong NYI AISYA ABDI CINTA” nyi Ii naokidan.

Simkuring jadi isin jeung barereum, keurmah beureum nu handap dicoco sireum . Jiganamah Nyi Aisya ge isinen da rada tungkul.

“Hayu I urang nyeseuh dei” ajak Imas. “hayu” jawab Ii

Simkuring ditinggalkeun duaan jeung Nyi Aisya.

“Nyi bilih bade nyeseuhmah mangga” ucap sing kuring bari ngadoa supados Nyi Aisya tong indit.

“Muhun atuh ari kitumah abdi bade nyeseh deui” waler Nyi Aisya bari rek Indit.

“Nyi....” ucap simkuring

“Kah...” waler Nyi Aisya

“ADDUHHH!!!” sirem nyoco dei

“Kang udin teu kunanaon” nyi Aisya rewas

“Henteu” waler simkuring. “teu kenging ninggalkeun... kang Udin nyeri” sambung simkuring.

“Naha teu kenging ninggalkeun?” tanya Aisya

“Margi... margi...Nyai nu tiasa ngubaran” jawab simkuring

“Ngubaran naon Kang?” nanya deui

“Ngubaran... manah kang Udin nu pateh” jawab simkuring rada era.

“Emang nu nyerina naon? Naha geubisna awak tapi nu di raosna manah?” nanya deui.

“Nyai Geulis” simkuring malengkotkeun omongan.

“Kang Udin mah, waler heula nu tadi” Nyi Aisya cumarios rada isin jeung bingah.

“Oh... eta... nya kitu weh” heureuy saetik.

“Wios pami moal di waler abdi bade nyeseh” Nyi Aisya rada pundung.

“Nyi... “ simkuring nyarios bari ngarawel panangan Nyi Aisya.

“Ihhh... Kang Udin mah” ngewatkeun leungeun simkuring bari rada ambek bingah. “Kang...” sambungna

“Kulan...” waler simkuring

“Waler nu tadi naha bet manah kang Udin nyeri jeung wungkul abdi nu tiasa ngubarana” Nyi Aisya nanya panasaran.

“Leres palai terang?” simkuring nanya.

“Leres” waler Aisya

“Bismillahirohmanirrohim... ehm” sing kuring baca basmallah jeung ngadehem. “kieu Nyi...ti sapek kang Udin lebet ka Pasantren Pun rama Nyai, jeung ningali ka putrina anu jiga bidadari sawarga, nu sowanteuna sae, ngaosna pinter jeung... jeung sajabina weh nu sarae. Kang Udin teh sok ka pengpelingenan wae ku nyai jeung sok emut wae ka Nyai duka teuing naon sababna. Saking kang Udin sok emut bae kanyai janten...”

“Janten naon kang?” Nyi Aisya motong

“Nya jenten... janten manah kang Udin geuring. Waler simkuring.

“Maksadna?...” Nyi Aisya nanya panasaran.

“Maksadna.... bismillahirrohmanirrohim Kang Udin Cinta Ka Nyai” simkuring terus terang.

“Naha...” Nyi Aisya tambah panasaran

“Taqdir Allah” waler simkuring bari mandang wajah Aisya nu bangir pangambungna. “Nyi... kersa teu pami uwihna di jajap ku kang Udin?” simkuring nanya.

“Dijajap kamana Kang?” Aisya nanya

“Dijajap ka tonggoh”waler simkuring.

“Caket teuing” sambung Aisya Aisya

“Ka pasantren atuh” sambung simkuring

“Alim ah masih cakeut” waler Aisya

“Pami di jajapna dugi kajaga, kumaha” sim kurang naros

“Pami dijajapna dugi kajaga. Abdi kersa” waler Aisya rada tungkul nu nambah geulis rupina ngageterkeun hate simkuring..

“Leres nyai kersa” simkuring panasaran.

“Leres... asal kang Udin janji...” tanya Aisya

‘Janji naon?” simkuring nanya

“Bade leres ngaosna sareng nu pasti setia moal sulaya” waler Aisya.

“Kang Udin janji rek ngajajap nyai sahidup samati moal rek sulaya” waler simkuring. “Nyai...” sambung simkuring.

“Kah...” waler Aisya

“Kang Udin cinta ka Nyai... pami nyai Cinta teu ka kang Udin?” simkuring nanya.

“Nya kitu weh...” waler Aisya.

“Nyai.... bade nyeseh moal” tanya Imas motong karomatisan batur.

“bade” waler Aisya.

“Kang Udin Abdi bade nyeseh heula... kang Udin ge kedah ka pasantren panon poe tereh lingsir sakedap dei Juma’atan” sambung Nyi Aisya ka simkuring.

“Muhun kang Udin ge bade ka pasantren bilih di pilarian Pangersa” simkuring ngawaler. “tapi sateacana... waler heula nu tadi... nya nu eta tea. Nu Nyai cinta teu ka kang Udin. Sambung simkuring. Aisya senyum nu ngahiasi wajah geulisna bari ningali sakedap tuluy tungkul deui.

“Kang abdi bade nyeseh... mangga kang” Aisya teu ngawaler pertanyaan ngaleos bari mere senyum manisna ka kang Udin. Simkuring ge ngaleos balik ka pasantren. Simkuring ngalieuk ka tukang ningali Nyi Aisya jeung kaperengan Nyi Aisya ni ngali simkuring.

“Kang.... kade dijalana” ucap Aisya bari mesem ngaleos teu balik dei.

Simkuring teu jawab nanaon ngan saukur seri bungah. Teu seer carios saking bungahna cinta simkuring di tarima ku Nyi Aisya, simkuring lumpat kapasantren teu paduli cucuk katijek sirem rarangge nyoco teu di rasa sakabeh kanyeri leungit ku Nyi Aisya. Nun... Gusti nuhun do’a teh di tampi.

Misteri Hilangnya Santri

“Bangun-bangun sekarang sudah jam dua lewat lima puluh sembilan menit sudah saatnya bangun untuk persiapan shalat subuh” itu teriak temanku membangunkan santri lainnya yang tidur lelap. Temanku yang satu ini memang kurang kerjaan setiap subuh dia berteriak membangunkan orang. Padahal dia tahu bahwa tidur adalah salah satu kenikmatan dunia. Lantas kenapa dia harus selalu membangunkan santri? Untuk persiapan sholat lagi. Dasar, Sie keamanan kurang kerjaan. Maaf, aku berkata seperti ini karena aku salah satu santri yang kreatif. Suka melawan dan selalu kritis moralis. Walau kadang aku sendiri krisis moral. Biasalah manusia. Santri kan orang yang bertaubat. Makannya aku mengaji.
Kata orang sejarawan “Sejarah selalu terulang”. Memang itu benar. Karena, sie Keamanan kembali kehilangan santri beberapa orang dan diantaranya aku. Kami bertiga biasanya selalu absen di Masjid tidak seperti yang lainnya yang setelah bangunn kemudian menghafal di Masjid. Keamanan bingung, Pesantren geger karena tiga santrinya tak ada di tempat tidur juga ditempat lainnya yang pantas ditiduri.
“Tidur dimana lagi mereka?” kata seorang keamanan yang tadi kusebutkan sebagai temanku. Mereka terus mencari. Kali ini, entah keberapa kali aku hilang menurut mereka. Padahal aku dan temanku tidak hilang hanya hijrah tidur. Kami hijrah karena tidak mau diganggu. Kami pindah tidur dari kamar keluar. Dan dari bawah keatas. Sulit memang menemukan santri kretaif seperti aku dan temanku.
Kali ini aku sial. Karena salah satu Keamanan pesantren berteriak memanggil namaku dengan microfon hingga membuat aku tak bisa tidur. Selama ini aku selalu selamat dari pencarian orang hilang. Letak tempat tidur kami memang strategis hingga tak bisa dilacak. Setelah mereka keamanan bosen mencari. Baru aku bisa memejamkan mataku. Rasanya indah hidup ini tak ada yang ganggu.
Tiba-tiba “PSSSSSSSSHHHHH…. TUUUUUTTT….” Itu suara kentut temanku yang suaranya sangat nyaring.
“Sssssssttttt….. Gak boleh berisik.Tutup semua sumber suara entar ketahuan”. Itu aku mangajarkan kepada temanku tentang etika bersuara.
Mungkin. Pasti karena suara kentut temanku sangat nyaring. Jelas sekali aku dengar di dalam masjid ada keributan. Keributan itu bersumber dari suara misteri yang terdengar dari atas masjid. Karena tak ada bukti sumber suara maka para santri saling menuduh dan berdebat tentang suara kentut siap itu? Mereka saling melontarkan tuduhan dengan dalil yang Dzon (berdasarkan sangkaan) hingga banyak santri yang bersedih karena terfitnah.
“Diam! gak usah diributkan” keamanan mendisiplinkan para santri hingga kembali normal.
“Kayaknya keamanan yang kentut?” salah seorang santri masih belum puas menuduh orang.
“Siapa yang bilang keamanan kentut?” Keamanan marah, semua santri gak ada yang ngaku karena takut dihukum.
Setelah berunding. Karena penasaran dengan suara misteri itu, dan tidak terima dituduh kentut. Maka keamanan mencari tangga dan hendak menyelidiki keadaan di atas masjid. Setalah keamanan menaiki tangga dengan hati-hati dan suara pelan. Mungkin ia takut jin atau mungkin takut jatuh. Sesampainya diatas masjid ia menatap genteng yang hampir horizontal. Sehingga kalau ditidur dengan diampari kasur akan enak bak dikasur hotel.
Entah berapa menit dia mencari kami. Tapi tak kunjung ketemu. Keamanan putus asa dan kembali turun. Baru menuruni anak tangga setengah. Tiba-tiba temanku kentut lagi dan suaranya lebih nyaring dari serangan pertama. Bahkan, getarannya membangunkanku. Dan ada juga santri yang terbangun karena kenyaringan suara kentutnya. Dibawah aku mendengar suara orang yang jatuh dan berteriak “ADUH…” dan disusul suara “BLAK”. Aku yakin itu suara tangga dan yang jatuh adalah Keamanan. Jadi, Keamanan tertima tangga karena kaget mendengar dahsyatnya kentut temanku.
“Hey… Siapapun kalian cepat turun dari Masjid! Kalau tidak aku hukum!” Keamana sangat marah dan berteriak geram. Karena kami orang yang penurut maka kami turun dan minta maaf. Sepertinya keamanan marah besar dan dia langsung menunjuk kolam ikan pak Kiai. Kami bertiga dihukum berendam di kolam Kiai sampai subuh. Dan setelah selesai ngaji disuruh membersihkan seluruh kompleks pesantren.
Akhirnya keamanan bisa memecahkan misteri hilangnya santri. Dan kali ini setiap subuh santri lengkap berkumpul di masjid. Tapi, walau berkumpul temanku yang satu lagi tetap tidak bisa menyembunyikan suara……

Jumat, 07 November 2008

Santri dan Dakwah

Oleh DASAM SYAMSUDIN

Entah siapa yang mengtakan, bahwa kata santri berasal dari bahasa Inggris. Yaitu sun dan there, yang berarti tiga matahari. Saya belum pernah mendengar seseorang yang memaknai kata itu secara eksplisit. Namun, saya berpikir, bahwa mungkin yang disebut tiga matahari tiada lain adalah rukun agama, dimana tiga unsur itu wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Tiga rukun itu yaitu, Iman, Islam dan Ihsan. Dalam hal ini, saya mengindikasikan bahwa seorang santri pantas dan seharusnya memiliki tiga rukun iman tersebut dan terpatri di dalam dirinya.

Dengan demikian, kewajiban identitas santri adalah seorang yang memiliki keimanan yang kuat, dan hidupnya seiring dengan ajaran Islam serta mengindahkannya. Kemudian, dari keduanya jika telah terpatri dalam diri santri maka akan melahirkan sikap dan perilaku yang baik (Ihsan). Tentu sudah menjadi kewajiban moral bagi seorang santri hidup dengan ke’arifan Islam sebagai cerminan dari keimannya.

Setiap santri adalah muslim, namun tidak semua muslim dikatakan santri. Pembahasan tentang muslim—orang yang sudah masuk Islam—terlalu luas jika diidentikan dengan santri. Karena, hukum sosial telah menyudutkan pengertian santri sebagai orang yang mengaji dipesantren atau rajin mengaji dimasjid. Kalaupun ada celetusan yang mengatakan bahwa setiap muslim adalah santri, itu syah-syah saja dalam segi konteks. Namun, secara tekstual pengertian santri adalah orang-orang yang mengaji atau belajar ilmu agama pada sebuah lembaga pendidikan Islam—pesantren, baik tradisional ataupun modern. Kendati demikian, rupanya fleksiblitas pesantren mengikuti arus modernisasi tidak bisa dihindarkan, realitas objektif menunjukan adanya transformasi pesantren dari corak pesantren klasik (salafiyah) menjadi corak pesantren modern. Sehinngga orientasipun berubah, ada santri abangan yang mengaji di pesantren salafiyah dan santri intelek yang mengaji di pesantren modern.

Dalan konteks itu, apapun istilah santri entah itu abangan atau intelek yang pasti keduanya mempunyai sisi identik, yaitu dakwah. Dakwah bagi seorang santri merupakan kewajiban moral, sebagai identitas dari kekhasanya. Di zaman sekarang, seorang santri tidak diindikasikan sebagai orang yang selalu memakai kopiah, pakaian muslim lengkap dengan sarung, leher dililit oleh sorban atau lain sebagainnya. Sebab, jika dilihat dari sisi itu, maka santri modern mayoritas sulit dibedakan dengan masyarakat nonsantri. Dengan demikian, cirri khas santri di era modern sejatinya dengan retorika berdakwah. Apapun tema yang disampaikan santri dalam orasinya yang pasti esensinya harus berbau nilai-nilai religi.

Jika kewajiban moral santri berdakwah, maka kewajiban lembaga pesantren terhadap santri harus bisa mengajarkannya retorika dakwah yang baik. Dengan demikian, identitas seorang santri tidak akan hilang. Santri modern lebih mengidentikan santrinya terhadap intelektualitas. Sedangkan santri abangan tidak mengenal intelektualitas, namun ciri khas retorika dakwahnya akan membahas esensi permasalahan dari satu titik sehingga dakwahnya rinci dan tajam. Berbeda dengan santri modern, ia akan menjabarkan suatu permasalahan dengan lebar, dibidik dari berbagai disiplin ilmu. Jadi, kendati mereka santri tetap saja dalam retorika dakwahynya bisa diindikasikan berbeda. Wallahu a’lam.

Dasam syamsudin

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Kom. UIN SGD Bandung, Penggiat

Irfani for Religion and future analysis (IRFANI) Bandung

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification